Jatuh Cinta di Ranu Kumbolo

Dalam rangka mengisi waktu liburan, penulis dan dua temannya mengadakan happy camp tepatnya di Ranu Kumbolo, pegunungan Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa. Semua persiapan dan juga perlengkapan kami asumsikan sudah siap.

Kami mengawali perjalanan dari kota Jember menuju kota pisang , Lumajang dengan mengendarai sepeda motor. Alur lalu lintas begitu ramai pada waktu itu membuat kami harus berhati – hati mengendarai motor. Satu teman kami di belakang terlihat begitu gagahnya memanggul tas carrier besar dengan motor Vixion yang gagah pula, berambut gondrong, berkacamata hitam bagaikan Ali Topan anak jalanan yang tengah beraksi.

Satu jam perjalanan telah kami lewati dan kami sampai di kota pisang, Lumajang. Dinamai kota pisang karena memang kota Lumajang merupakan salah satu kota penghasil pisang terbesar di Jawa Timur. Jika kita berkunjung ke pasar – pasar tradisional, akan kita temui berbagai macam pisang dengan berbagai ukuran. Produk olahannya pun banyak yang terbuat dari pisang, seperti keripik pisang, emping pisang, dll. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah masyarakat Lumajang makanan pokoknya juga pisang ya????? He he he,,,,tentu bukan. Seperti orang Indonesia pada umumnya, makanan pokok masyarakat Lumajang pasti nasi laah,,,,,,,,, pis....pis....pis.... Lumajang.

Pisang di pasar tradisional

Tak terasa perjalanan kami pun sampai di kecamatan Senduro. Boleh dibilang, Senduro adalah kecamatan dan desa terakhir dari arah Lumajang menuju Ranu Pane. Suasana pegunungan pun sudah mulai terasa di daerah ini. Disini, pengunjug juga bisa malihat salah satu pure besar yang dijadikan sebagai pusat peribadatan umat Hindu. Selain itu, pengunjung juga bisa melihat pemandangan pantai selatan Lumajang dari ketinggian.

Waktu kami gunakan untuk istirahat dan sholat di masjid besar Senduro. Airnya begitu dingin memulihkan tenaga dan semangat kami untuk melanjutkan perjalanan. Setelah semuanya selesai, kami pun bergegas untuk melanjutkan perjalanan menuju Ranu Pane. Perjalanan dari Senduro menuju Ranu Pane kurang lebih menghabiskan waktu 1 jam perjalanan. Jalur menuju Ranu pane merupakan jalan beraspal dan kadang juga makadam karena tergerus air. Kanan dan kiri jalan, kita bisa melihat perkebunan – perkebunan yang terhampar luas. Dulu, perkebunan disini juga tidak terlalu luas seperti sekarang, karena pertumbuhan penduduk dan kebutuhan daerah yang dulunya hutan beralih fungsi menjadi daerah perkebunan.

Setelah setengah perjalanan kita lewati, kami pun mulai memasuki kawasan hutan. Waktu itu kabut sangat tebal sampai – sampai jarak pandang pun tidak terlalu jauh dan terasa seperti hujan. Perlu hati – hati bagi pengendara motor khususnya karena jalan bisa licin dan membahayakan bagi pengendara.

Selang beberapa menit, kami pun sampai di Ranu Pane, pos perijinan sebelum mendaki Gunung Semeru. Selamat datang di Ranu  Pane!!!!!!!!! Perjalanan dari Jember manuju Ranu Pane kurang lebih memakan waktu 3 jam plus istirahat.

Ranu Pane adalah suatu desa yang banyak penduduknya. Mayoritas mata pencaharian masyarakat disini adalah bercocok tanam. Seperti di daerah pegunungan pada umumnya, tanaman yang ditanam oleh masyarakat disini adalah jenhan seperti sayuran, palawija seperti kubis, saledri, kentang, wortel bawang merah, bawang bambu dan juga buah – buahan seperti strawbery. Suasananya begitu tenang dan damai. Banyak pengunjung yang datang hanya melihat pemandangan dan bahkan berjalan mengllilingi Ranu/Danau.

Pos perijinan, Ranu Pani


Setelah memarkir sepeda motor, penulis mencoba mengurusi perijinan. Naaaaaahhhh,,,,,,disini kita mendapatkan hambatan. Ternyata, untuk memperoleh ijin dari petugas, para pendaki harus melampirkan foto copy KTP dan surat keterangan sehat dari dokter. Kalau KTP masih bisa kami penuhi, surat keterangan sehat dari dokter itu yang sulit,,,,,masak harus turun lagi???????

Setelah penulis bernegosiasi cukup lama dengan petugas perijinan, akhirnya penulis kembali menuju rombongan dan berunding sambil makan siang. Selama kami berunding, akhirnya kami putuskan untuk melangkah ke Ranu Kumbolo. Menurut salah satu dari kami yang beberapa bulan sebelumnya juga mendaki Gunung Semeru, persyaratan surat keterangan sehat dari dokter memang belum ada, hanya foto copy KTP yang diperlukan. Entah apakah kami yang kurang tahu perkembangan informasi atau pengelola taman nasional yang kurang bersosialisai? Ahhhhh,,,,,,,lawong sudah nyampek di Ranu Pane, masak mau balik lagi??? Akhirnya kami tetap melangkah menuju Ranu Kumbolo dengan segala resiko yang kami terima tanpa mendapatkan ijin dari petugas perijinan alias ILLEGAL. Ha ha ha ha,,,,,,,jangan ditiru ya!!!!! Tapi lain kali kami pasti penuhi persyaratan administrasinya lho pak,,,,,, pis pis pis!!!!!!!!

Kurang   lebih pukul 15.00, dengan langkah yakin (yakin tidak akan diusir karena belum mendapatkan ijin, he he he) kami mengawali langkah melewati jalan beraspal menuju pintu gerbang jalur pendakian Gunung Semeru. Suasana begitu cerah, para pendaki yang  sudah duluan sampai puncak terlihat loyo berjalan sempoyongan membawa tas carrier. Wajahnya tampak lesu karena terlalu kecapean sedang menuju pos perijinan, Ranu Pane.

Pintu gerbang pendakian Semeru

Setapak demi setapak kami melewati jalan di depan kami. Jalan kali ini adalah jalan yang beralaskan paving dan sedikit lebar. Waktu itu memang banyak para pendaki baik yang turun maupun yang mau naik. Turis – turis dari manca negara juga turut meramaikan suasana pendakian menuju pos 1. Semak – semak di kanan jalan tumbuh dengan lebatnya. Sesekali ransel kami tersangkut dan bahkan harus sampai merunduk.

Sesampainya di pos 1, sinyal HP terasa mencukupi meski hanya untuk mengirim SMS. Isi SMS pun melayang ke HP teman – teman hanya sekedar pamer kalau kami sedang jalan – jalan di Semeru, he he he ...................

Di pos 1 juga kami bertemu dengan rombongan lain dari Malang yang berangkat mendahului rombongan kami. Saling tegur sapa, dan saling berkenalan menjadikan suasan menjadi hangat meski di atas ketingian. “Duluan ya mbak!!!!”, tegur sapa dari satu anggota rombongan kami yang siap melangkah menuju pos 2.

Perjalanan menuju pos 2 diwarnai dengan pemandangan hutan yang cukup lebat dan sesekali balaian kabut lembut membelai kulit raga ini. Canda tawa dan obrolan – obrolan hangat serta ringan mengiringi perjalanan kami. Pemandangan – pemandangan alam yang jarang kita temui di kota menghanyutkan hati ini terhadap kebesaran Ilahi.

Pos 1, 2, dan 3 pun telah kami lewati. Jalur dari pos per pos juga tidak terlalu sulit untuk dilewati. Magrib pun tiba, sejenak kami berhenti untuk menghormati waktu sholat telah tiba dan merebahkan badan untuk sedikit menghilangkan rasa capek. Peralatan penerangan juga kami siapkan untuk perjalanan selanjutnya. Ranu Kumbolo tinggal 500 meter lagi. Eiiiiiiittttt,,,,,,, tungu dulu!!! Jangan salah, ternyata 500 meter itu adalah jarak dimana kita bisa melihat Ranu Kumbolo. Tapi, untuk sampai di tempat camping groundnya kami masih harus berjalan beberapa kilometer lagi termasuk mengelilingi setengah dari luas Ranu Kumbolo,,hmmmmmmmm,,,,,,capek dech!!!!!!

Demi rasa cinta kami untuk menikmati keindahan Ranu Kumbolo, kami harus tetap tegar melintasi medan di hadapan kami. Cahaya lampu senter sudah bergitu terang menerangi jalan yang kami lewati. Selama perjalanan, telah tampak lampu tenda seperti kunang – kunang dipinggiran Ranu Kumbolo yang jauh disana.
Setelah dari pos 4, kami melewati jalur turun menuju danau dan setelah itu naik lagi menelusuri pinggiran Ranu Kumbolo. Hmmmmmmm,,,,,,cukup menantang perjalanan menuju Ranu Kumbolo dan itu pasti tidak akan di bayar dengan harga yang murah.

Perjalanan dari Ranu Pane menuju Ranu Kumbolo kurang lebih memakan waktu 4 jam perjalanan normal. Tepat jam 19.00, kami pun sampai di area camping ground di tepi Ranu Kumbolo. Waktu itu , sudah banyak pendaki lain dari berbagai daerah yang memenuhi sudut-sudut camping ground. Menurut kami, mungkin waktu itu memang dijadikan momen terakhir mendaki gunung sebelum memasuki bulan Ramadhan (bagi yang bergama muslim). Langit begitu cerah, bintang bertaburan menyinarkan sinarnya di atas Ranu Kumbolo yang memberi suasana romantis di atas ketinggian 2000m dpl. Suhu juga mulai dingin menyelimuti raga yang memaksa kami untuk segera mendirikan tenda. Tenda yang kami gunakan merupakan tenda yang masih baru pertama kali digunakan (coro arek wedok, jek perawan, hehehehehe). Tenda pun berdiri  tegap dan terlihat paling mencolok diantara ratusan tenda – tenda yang lain. Setelah itu, kami pun bergegas untuk memasak dan menunaikan kewajiban. Makan malam pun siap dengan minuman hangat yang menyegarkan badan. Makan – makan,,,,,,,teng teng teng!!!!!!!

Tenda kami


Setelah semuanya selesai, saatnya masuk kedalam sleeping bag yang menghangatkan. Di luar tenda masih terdengar ramai. Banyak para pendaki yang masih berdatangan hingga pukul 22.00. Tanpa menghiraukan suara ramai di luar tenda, kami pun tidur pulas, Hrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Ranu Kumbolo, danau seluas 14 hektar di ketinggian 2400 meter dpl, dikelilingi bukit hijau dengan pohon-pohon cemara, airnya jernih, dan pagi itu, sekumpulan kabut tipis berarak di atas permukaan danau. 
Ranu Kumbolo


Pagi pun tiba! Udara diluar masih terasa sangat dingin. Enggan rasanya keluar dari kehangatan sleeping bag yang memanjakan. Tapi bagamanapun, kami harus melawannya untuk menunaikan kewajiban dan menikmati pesona Ranu Kumbolo di pagi hari.
Waktu pagi di Ranu Kumbolo adalah momen – momen yang tidak boleh dilewatkan. Pesona yang dipancarkan bagaikan surga bagi para pendaki gunung. Mentari pagi dengan warna langit keemasan menghionotis siapapun yang menikmatinya. Embun yang menguap di atas permukaan danau seakan berwarna – warni karena sinar mentari pagi. Ratusan para pendaki berbondong – berbondong membawa kamera berdiri di tepi danau untuk tidak melewatkan momen berharga ini. Kilatan cahaya kamera seolah – olah terfokus pada sang primadona yang keluar dari peraduannya, membuat hati para penggemarnya terhanyut dalam keindahan mentari terbit dan Ranu Kumbolo yang begitu mempesona dan membuatnya jatuh cinta.

Pagi pun kami lalui dengan memasak makanan untuk sarapan pagi. Cukup istimewa (untuk ukuran di gunung) sarapan pagi waktu itu, ada omlet, telur goreng, mi kuah plus saus sambal, dsb. Yang sangat lezat untuk disantap digunung. Sangat lezat karena memang hanya itu yang bisa kami nikmati untuk sarapan pagi dan lokasi juga yang membuatnya menjadi begitu nikmat.
Pesona Ranu Kummbolo belum berakhir disitu. Di belakang tenda, terdapat tanjakan yang disebut dengan tanjakan cinta. Adalah hukumnya fardhu ain bagi pendaki melewati tanjakan untuk menuju pos selanjutnya yaitu Kalimati atau Arcopodo sebelum puncak. Selangkah demi selangkah penulis mencoba menapaki tingginya tanjakan cinta untuk menikmati keindahan Ranu Kumbolo dari puncak tanjakan cinta. Katanya, barang siapa yang menaiki tanjakan cinta kemudian menoleh kebelakang (ke Ranu Kumbolo), maka cintanya putus ditengah jalan. Pikir penulis ,” Biar wes cintaku putus ditengah jalan, yang penting cintaku ke Ranu Kumbolo tak akan terputus dan tak akan terlupakan”. Makanya, penulis bolak – balik menoleh kebelakang karena tidak tahan melihat kecantikan Ranu Kumbolo, wkwkwkwkwkwkw!!!!!!

Sesampainya di puncak tanjakan cinta, subhanallah ...................... memang benar judul dari tulisan ini, Ranu Kumbolo memang membuat jatuh cinta.

Ranu Kumbolo dari Tanjakan Cinta


Kalau diibaratkan dengan orang yang sedang jatuh cinta, mungkin ada benarnya juga mitos bahwa kalau menoleh ke belakang ketika menaiki tanjakan cinta, maka cinta nya akan terutus di tengah jalan. Tanjakan yang dilewati adalah tantangan yang harus dilalui sebelum menggapai cintanya di puncak tanjakan cinta.  Dan cinta yang diraih adalah pemandangan Ranu Kumbolo yang menakjubkan dan membuat orang tidak bisa melupakannya. Termasuk penulis yang jatuh cinta pada Ranu Kombolo, sampai- sampai karangan berupa naskah cerita perjalanan ke Ranu Kumbolo pun tertulis dengan pena asmaranya yang mengelora, hehehehehe,,,,,,,,!!!!!

Terlena denga keindahan alam ciptaan Tuhan, membuat jiwa dan raga ini serasa tak berdaya dengan keagungan dan kekuasaan Tuhan. Alam yang begitu indah membuat hati ini termenung, “Ciptan-Nya saja sudah seperti ini, apalagi yang menciptakan”. Sungguh kekuasaan dan keagungan-Mu adalah sesuatu terbesar yang tidak ada tandingannya di dunia ini. Keindahan Ranu Kumbolo adalah sebagian kecil dari keindahan-Mu yang lain. Bagaikan satu tetes air atau bahkan 1/8 tetes air dibandingkan dengan air laut yang terbentang luas di dalam samudera di muka bumi ini.

Jam tangan telah menunjukkan pukul 08.00, waktunya turun nih!!! Sesampainya di tenda, waaah ini sarapan siap disantap. Waktunya makan, hiks,,,hiks,,,hiks,,,
Setelah makan bersama, hmmmm,,,,waktunya bagi penulis untuk cuci piring dan peralatan masak lainnya, hehehehehehe,,,,
Setelah semuanya selesai,,,, salah satu anggota dari kami ingin mandi di Ranu Kumbolo, hrrrrrrrrrr,,,,pasti dingin banget ya!!!!

Berenang di Ranu Kumbolo


Selain itu, pendaki – pandaki lain juga sibuk dengan kegiatan – kegiatan masing – masing. Ada yang bergegas mau melanjutkan perjalanan manuju Kalimati/Arcopodo. Selain itu juga, banyak pendaki lain yang juga ramai- ramai berenang di Ranu Kumbolo. Ati – ati lho ya!!!!!
Setelah mandi dan bersih – bersih, kami kembali ke tenda. “naaahh sekarang waktunya berjemur” hehehehehe,,,,sudah item mau berjemur,,,,kayak turis luar saja,,,hehehehehe......

Santi di tepi danau


Hmmmmmmm,,,,, dari pagi sampai siang, Ranu Kumbolo terus menampakkan pesonanya kali ini, kabut tebal datang dari sela- sela perbukitan memenuhi seluruh area danau dan camping ground disertai dengan angin yang cukup membuat merinding raga ini, seperti kawah gunung yang dipenuhi asap vulkanik, sungguh menakjubkan. Angin sepoi – sepoi membelai kulit raga ini seperti halnya berjemur di tepi pantai.

Sudah setengah hari kami menghabiskan waktu di dalam keindahan Ranu Kumbolo. Jam menunjukkan pukul 12.00, waktunya bagi kami untuk bergegas pulang. Setelah makan siang dan sholat, kami mulai memasukkan barang bawaan kami satu per satu ke dalam ransel tepat pukul 13.00, kami mulai bergerak meninggalkan area camping ground, Ranu Kumbolo bersaman dengan pendaki lain. Perlahan kami meninggalkan Ranu Kumbolo, kenangan di Ranu Kumbolo menyisakan kenangan yang tak terlupakan. Keindahan alam yang begitu mempesona memberikan keteguhan hati terhadap kebesaran Ilahi.


----Salam Lestari----



text by:
Munir Petualang


foto terkait: lihat di foto dokumentasi!
                                  

4 komentar:

hayy teman pendaki, jangan lupa klo ke Ranu Gumbolo bawa pancing looo, pernah aku mancing dapat Majalaya 3 ekor, besar lagi, suhu waktu itu -4 s/d -3 derajat celcius, wah dingiiiiiiin banget, pingin aku kesana lagi. nunggu liburan ahhhh.....GIRIWANGI-DOKO-BLITAR.

kayaknya seru juga klo bawa pancing,hehehe!!!

selain itu pesona Ranu Kumbolo juga menakjubkan. Tgl 14-17 Juli rencana mau berkunjung ksna lagi.

Munir Petualang

Wah menyenangkan sekali bisa berpetualang. Andai bisa kembali remaja

Poskan Komentar